Sudah Ada Reels dan Short, tapi kenapa Tiktok masih rame?

Eli Pujastuti
2 min readMay 11, 2022

Sebuah aplikasi yang dinaungi oleh Bytedance mulai masuk di Indonesia bulan juli 2018. Aplikasi ini cukup fenomenal karena tanjakan jumlah pengguna yang sangat cepat. Sempat diblokir, namun setelah pembolkiran malah membuat aplikasi ini semakin naik daun. yupp.. TikTok, nama aplikasi yang sampai saat ini telah mencapai lebih dari 500juta pengguna aktif. Begitu tiktok masuk pasar Indonesia, aplikasi-aplikasi existing mulai mempertimbangkan keberadaan TikTok. Aplikasi existing yang cukup menguasai pengguna media sosial adalah Instagram dan Youtube. Disini keberadaan TikTok cukup memiliki karakteristik yang membuat pengguna dari aplikasi existing tadi mulai melirik untuk mencoba menggunakan juga TikTok. Jika tadinya Instagram lebih ke gambar dan video pendek dan youtube lebih ke video panjang, sekarang Instagram dan youtube juga memiliki fitur yang sama dengan TikTok, harapannya pengguna aplikasi existing ini tidak perlu berpindah ke TikTok, cukup tetap menggunakan aplikasi existing mereka. Namun, kenyataannya TikTok tetap punya pasarnya sendiri. Pengguna aktifnya terus tumbuh, why? kenapa bisa begitu?

“TikTok merupakan aplikasi berkarakter”

karakter yang kuat yang dimiliki TikTok membuat pengguna merasa TikTok layak untuk digunakan. Beberapa pendapat pribadi saya tentang jawaban dari pertanyaan “Sudah Ada Reels dan Short, tapi kenapa Tiktok masih rame?”

  1. Interactivity and Collaborative

Filter yang dimiliki TikTok merupakan kekuatan yang menurut saya dapat membuat pengguna tetap stay menggunakan aplikasi. Pertama adalah Kebaruan dari filter yang terus update membuat pengguna penasaran atau bahkan merasa ketinggalan jika tidak mencoba menggunakannya. Selain kebaruan, yang kedua adalah interaktifitas dan kolaborasi, yang membuat pengguna bisa berinteraksi dengan aplikasi dengan hanya menggerakkan smartphone ataupun menggerakkan kepala. Fitur interaktif ini meng-asyik-an bagi beberapa banyak pengguna apalagi ketika bisa digunakan bersama-sama.

2. Short and Intensive

Semakin hari kebiasaan pengguna pun mengalami perubahan. Walaupun pengguna bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling konten, namun pengguna mulai menginginkan kecepatan informasi yang padat dan TikTok memilikinya. Seseorang bisa fokus pada suatu konten tidak lebih dari 3 detik, jika konten itu terlalu lama opening dan organik tanpa editing, maka user memilih untuk skip, mencari yang lebih to the point. Kemudahan editing video yang disuguhkan dapat membuat user tiktok menjadi menarik untuk digunakan

3. Easy to be monetized

Jika kita adalah pengguna baru TikTok, kita dengan mudah bisa mendapatkan rupiah dengan mengundang teman untuk juga menggunakan tiktok. Selain itu live tiktok juga memungkinkan pendapatan user meningkat, tidak perlu syarat ini itu, user langsung memahami bahwa TikTok bisa menjadi sumber pendapatan creator.

4. Unique algorithm

Algoritma yang dimiliki menurut saya cukup unik, dari mulai cara tiktok memunculkan fyp (for your page) ke penggunanya, sampai kecepatan viralnya video tiktok. Fyp yang biasanya dimunculkan dari personalisasi seorang user, kali ini tidak hanya personalisasi, lebih dari itu. Cukup random namun tetap menarik. Personalisasi terkadang membuat user bosan dengan kesukaannya sendiri, tapi tiktok memahami itu, algoritma fyp bisa membuat user tidak akan bosan dengan konten yang muncul.

jadi disini dari ke-4 point yang saya sampaikan, menyimpulkan statement seperti ini

Jika produk kita ingin tetap digunakan oleh banyak pengguna, kita harus memikirkan karakter kuat apa yang harus produk kita miliki.

Itulah 4 hal yang merupakan pendapat saya pribadi, terima kasih…

--

--

Eli Pujastuti

Startup Ecosystem Builder || Managing ABP Startup Incubator — Learning and Growth Department || Researcher